|
Apakah pendidikan harus mahal? Sebagian besar orang beranggapan bahwa mahal berarti bagus, mahal berarti berkualitas, dan sebaliknya murah berarti jelek, murah otomatis tidak berkwalitas. Namun tidak selamanya yang berkualitas itu mahal, begitu juga tidak selamanya murah itu tidak berkualitas.
Dunia pendidikan sudah masuk ke dalam bisnis, pendidikan identik dengan mahal. Premis ini dikuatkan dengan perilaku sebagian masyarakat bahwa “sekolah mahal” pasti berkualitas. Tentu, hal ini tidak masalah untuk orang kaya. Akibatnya, kita tidak bisa menyalahkan jika setelah lulus nanti akan berusaha untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya. Kita akui bahwa pendidikan memang mahal, bahkan sangat mahal. Artinya bagi pemerintah memang harus mahal, mulailah angaaran pendidikan 20% dipenuhi dan terus ditingkatkan, namun bagi masyarakat pendidikan haruslah murah. Idealnya “pendidikan bagaikan air” bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, baik orang kaya atau miskin, cerdas atau low learning. Pendidikan adalah aset negara di masa mendatang. Mutu pendidikan bukan hanya berimbas pada pribadi sang penuntut ilmu, akan tetapi dapat mengangkat harkat dan martabat Negara dan membantu percepatan pembangunan bangsa. Air, menggambarkan sumber daya alam yang murah, gratis, dan dapat dinikmati siapa saja. Diharapkan outputnya semakin berkualitas, dan peduli pada lingkungannya, sehingga tujuan pendidikan nasional yang dimuat dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang kita dengarkan setiap upacara bendera setiap minggu bukanlah sebuah impian, tapi kenyataan. Andil pemerintah sangat besar untuk mewujudkan pendidikan murah tapi berkualitas. Yang diuntungkan bukan hanya masyarakat, tapi pemerintah juga akan memetik hasilnya puluhan tahun ke depan dengan munculnya sumber daya manusia berkualitas dan bermoral yang akan mempercepat kemajuan bangsa menuju negara maju, adil, aman, sejahtera dan bermartabat. Waullaohu alam |